Di atas bukit itu
Di atas bukit itu
telah tertulis penyambung langkah
mngorak hidup mngenal fana
mnjunjung harapan yang menyelimuti cita
bergalaskan anugerah yg telah dikurnia
Di atas bukit itu
tertakdir sebuah acara
mencorak pertemuan yang membuka satu lembaran
lalu bersulam mencambah satu hubungan
antara mataku dan matamu
antara hatimu dan hatiku
antara jiwaku dan jiwamu
Di atas bukit itu
layangan camar adalah saksi
kucupan bayu sering menemani
setia berlagu dengan harmoni
meniupkan harumnya kaseh mewangi
penyeri harimu dan harimu
ya...hari-hari kita bersama itu
Di atas bukit itu
masih tercatat kata-kata janji
menyimpul rasa nurani
mnyerlahkan senyuman yang sukar berhenti
biarpun sedang lena diulit sang mimpi
sungguh dasyatnya ya tuhan
perasaan cinta yang kau ciptakan ini
Di atas bukit itu
dengan tiba-tiba kau lepaskan
segala yang pernah tercipta kau buangkan
aku mencari kemana segalanya
arah, indah, impian, harapan
begitu mudah kau buangkan
begitu mudah kau campakkan
tanpa berfungsi lisanmu itu
lalu aku kau tinggalkan
Di atas bukit itu
aku keseorangan
mencuba mencungkil erti
apa yang kau cari
di balik gerak geri
janji yang kau nodai
Di atas bukit itu
aku berdiri diam
berselindung dengan senyuman
memeluk sepi yang terpendam
mncari 'mengapa' yang masih belum aku temui
dari seorang insan yang aku gelar puteri.
By
SepiPhobia
Showing posts with label Sepiphobia. Show all posts
Showing posts with label Sepiphobia. Show all posts
Thursday, February 26, 2009
Hancor Musnah
Berat kaki ini menghayun langkah
Mengharung derita tak pernah sudah
Impian kian hancor musnah
Jaoh dari bahgia nan indah
Pandangan-ku kian samar
Rasa-ku makin memudar
Naluri dan jiwa-ku longgar
Menanti mendung berlalu beredar
Setiap gerak di-salah tafsir
Bersama hati diri tersiseh
Irama hidup ber-lagu sedih
Entah bila akan ber-akhir
Benar aku ber-salah
Mengharap khaseh ber-bekal madah
Sedangkan diri sering ter-ngadah
Hanya mampu ter-tunduk pasrah
Aku coba mengukir senyuman
Biar-pun pahit terpaksa ku telan
Akan-ku akur meniti kehidupan
Hingga ber-cherai nyawa dan badan
*terima khaseh atas segala-nya, Puteri.
kerana membuatku jatoh kedua kali.
By
Sepiphobia
Mengharung derita tak pernah sudah
Impian kian hancor musnah
Jaoh dari bahgia nan indah
Pandangan-ku kian samar
Rasa-ku makin memudar
Naluri dan jiwa-ku longgar
Menanti mendung berlalu beredar
Setiap gerak di-salah tafsir
Bersama hati diri tersiseh
Irama hidup ber-lagu sedih
Entah bila akan ber-akhir
Benar aku ber-salah
Mengharap khaseh ber-bekal madah
Sedangkan diri sering ter-ngadah
Hanya mampu ter-tunduk pasrah
Aku coba mengukir senyuman
Biar-pun pahit terpaksa ku telan
Akan-ku akur meniti kehidupan
Hingga ber-cherai nyawa dan badan
*terima khaseh atas segala-nya, Puteri.
kerana membuatku jatoh kedua kali.
By
Sepiphobia
Subscribe to:
Posts (Atom)